Body Rafting Green Canyon

This slideshow requires JavaScript.

 

Fotografer: Meliza, dan rombongan (credit to: Cindy buat kamera tahan air dan Mas ‘Guide’ yang ngambilin foto)
Narator : Meliza

Cerita di balik lensa
Perjalanan ini cukup unik karena serba tidak jelas mulai dari awal keberangkatan hingga sampai di tujuan. Kami berangkat menggunakan bis dari Kp Rambutan ke Tasik, lanjut dari Tasik ke Banjar, lanjut lagi dari Banjar ke Cijulang. Terpaksa harus ngeteng karena keterbatasan bus di momen libur lebaran. Bagi Anda yang hendak ke sini sebenarnya bisa dari Kp Rambutan ke Pangandaran, kemudian Pangandaran – Cijulang.

Foto Punya Cerita

Body Rafting (Arung jeram dengan tubuh) di Green Canyon.

Cijulang. Inilah terminal terdekat dari Green Canyon. Anda dapat mengaksesnya dengan berbagai rute (bisa dari Tasik, Ciamis, Banjar, Pangandaran, dll). Nah dari sana, tinggal jalan kira-kira 3 km atau naik ojek. Pengelola jasa tour di Green Canyon biasanya akan menawarkan dua pilihan: body rafting atau wisata perahu. Bagi Anda yang cukup punya jiwa petualang (terutama lompat ke air, ikut arus, dll), body rafting merupakan pilihan yang sangat tepat. Harga per paketnya waktu saya ke sana, lebaran Ags’14: body rafting 200k untuk smuanya (makan siang, peralatan, guide, perahu pulang), sedangkan untuk wisata perahu kalau ndak salah ingat 125k untuk berperahu dan 30 menit berenang di air, kalau lebih akan dikenakan biaya tambahan lagi.

Panjang tracking mulai dari atas hingga bawah kurang lebih 3 km. Dimulai dari turun gunung, rafting di arus tenang, rafting di arus deras, hingga lompat dari ketinggian bervariasi 3m, 8m, hingga 12m. Sekadar informasi di satu titik, Anda yang mengharuskan kita lompat, mau tidak mau. Kalau ndak gak bisa pulang, balik ke atas gak mungkin.

Saya pribadi termasuk orang yang takut untuk lompat ke air (bahkan di kolam renang sekalipun!). Karena takutnya di titik yang harus lompat, saya agak ‘membangkang’ dari instruksi yang diberikan. Alhasil terpeleset dan memar ringan. Tampaknya semboyan “Jump first, fear later” sekalipun sudah terngiang di kepala, namun kaki tetap diam membeku. Salut dengan teman2 lain yang cukup berani πŸ˜€

Secara keseluruhan, body rafting ini saya rekomendasikan bagi Anda yang senang dengan alam dan punya jiwa petualangan. Petualangannya tak kan terlupakan! πŸ™‚

Advertisements

Gowes Speda – Touring Jalur Naga

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Meliza
Narator: Meliza

Cerita di balik lensa
ZA: “Mel, besok mau ikut ga touring jalur naga? Ketemu di *** ya jam 7 pagi.”
MS: “Ok Pak. Saya ikut”

Foto punya cerita
Ini pengalaman pertama saya ikut touring sepeda. Rasanya seru bisa bersepeda bukan di jalan raya. Kami melintasi area yang disebut jalur naga. Sayangnya saya tidak sempat mendokumentasikan perjalanan nya dengan lengkap.

Jalur yang kami lalui ada jalan beraspal, jalan bersemen, batu, rerumputan dan bahkan tanah. Di kiri kanan ada rumput liar, kadang rumah penduduk dan bahkan kawasan persawahan. Sekitar 50 menitan bersepeda, kami pun tiba di suatu perhentian berupa DANAU! Rasa lelah meng-gowes sesaat hilang. Sejuk pun meliputi hati sanubari πŸ™‚

Sampai jumpa di Gowes berikutnya.

Cerita di UK (Ujung Kulon) :p

 

This slideshow requires JavaScript.

 

Fotografer: Meliza, dan rombongan (skitar 8 foto, credit to: Dewi, Nuniek, Mba Tami, Bang Nando)

Narator Β  Β : Meliza

 

Cerita di balik lensa

Perjalanan ke Ujung Kulon hampir saja batal karena bus Ar*mbi yang kami andalkan untuk mengantar kami hingga Serang tak kunjung tersedia (bis penuh karena libur imlek). Namun karena tekad sudah bulat dan pantang pulang, angkot pun menjadi pilihan terakhir meski gak bisa banyak bergerak. Dari Serang, kami lanjut naik elf hingga Taman Jaya. Dari Taman Jaya, nyebrang ke Pulau Peucang. Singgah di Peucang kemudian nyebrang ke Pulau Cibom (nenda hari pertama) dan Pulau Cidaon (nenda hari kedua).

 

Foto punya cerita

Ujung Kulon, daerah paling barat Pulau Jawa memiliki daya tarik tersendiri untuk: diving, snorkling atau sekedar jalan-jalan di pantai, jelajah (treking) di area hutan, berkemah (camping), dan mancing (termasuk makan ikan hasil pancingan :p)

Yup, Anda pasti kurang setuju kalau “Taman Nasional” terlewatkan oleh saya untuk disebut. Taman Nasional Ujung Kulon ternyata salah satu dari Taman Nasional yang cukup ‘kaya’ di dunia. Kaya dalam hal jenis tumbuhan maupun satwa nya. Tidak heran daerah ini disebut “Warisan Dunia (World Heritage)”. Sayangnya karena keterbatasan cuaca, saya tidak ketemu dengan satwa-satwa langka seperti Badak Bercula Satu, dll nya. Smoga di lain waktu bisa ngeliat si Badak..

Dua hal yang tak akan pernah saya lupakan dari perjalanan ini adalah:

Pertama, sensasi pertama kali berkemah, hehe. Tidak ada kamar mandi, tidak ada kasur, tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Tidak ada listrik dan sinyal = cepat tidur = pengen cepet-cepet pagi. Biasanya saya malah ingin lama-lama pagi supaya tidurnya bisa lebih panjang πŸ˜€

Mungkin begitulah rasanya menjadi peronda/ penjaga malam yang selalu mengharapkan datangnya pagi. Pagi yang pasti akan datang.
Teringat sesuatu dari Mzm 130:6 yg menjadi refleksi saya di Ujung Kulon: “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.”

Kedua, sensasi naik tiang tinggi di Tanjung Layar. Wow. Super Wow karena bot tiang nya ada yang sudah hampir lepas. Sulit rasanya merasa aman di situasi seperti itu. Lihat saja di foto yang ada, tangan saya tak pernah lepas dari pegangan, wkwkwk.. Kenapa saya memberani kan diri menaiki si tiang? Karena saya percaya pemandangan yang akan dilihat adalah luar biasa.

Sama seperti kehidupan, ada peristiwa yang dirasa ‘tidak aman’, namun ternyata setelah dilewati, makna peristiwanya adalah sesuatu yang berharga. Yang penting kita tahu apa yang harus dipegang πŸ™‚

Batu Layar Pegadung

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer : semua yang ada di foto ini (edisi campur sari)
Narator : Meliza
Penata Gaya: semua yang ada di foto ini (edisi campur sari)
Model : semua yang ada di foto ini (edisi campur sari); Meliza, Lukman, Mba Tami, Mas Indra, Bang Nando, Linda, Torang.

Cerita di balik lensa

PS: “Mel, mau ikutan ga ke Kiluan?”
MS: “Hmm… mikir dulu ya. Kere nh habis jalan libur lebaran kemarin”

(googling ttg kiluan)
(tertarik ama ikan lumba2, pengen nginjakin kaki lagi di bagian selatannya sumatera dan pengen snorkling)

MS: “Ikuuuuuut….”

Begitulah awal dari petualangan ini dimulai. Karawaci – Merak – Bakauheni – Lampung – Kiluan – Pegadung.
Pegadung? Nama apa tuh? Saya gak googling sama sekali mengenai lokasi ini, jadi ga punya gambaran sebagus apa lokasi yang dituju, yang saya tahu hanya sebatas ke sana naik ojek (asumsi: jalan kecil), dan jalannya ga bagus (asumsi: ya paling kayak di skitaran imam bonjol krwaci). Kenyataan yang harus dihadapi: 1 jam naik ojek dengan kondisi jalan yang ga berbentuk, berbatu-batu, tanjakan dan turunan yang terjal bisa sampai 45 drjt, semuanya dilalui dengan motor yang seadanya. Saya kagum sama Mas-Mas Ojek (melebih kekaguman saya kepada juara F1 sekalipun yang menjuarai perlombaan di jalan mulus). Bersyukur banget jiwa raga masih selamat dan bisa berbagi kisah perjalanan ini πŸ˜€

(cerita di balik lensa versi narator lain ada di sini ;))

Foto punya cerita

Dengan penuh perjuangan (disertai doa sepanjang jalan agar selamat sampai tujuan :p) kami berhasil tiba di Pantai Batu Layar Pegadung. Seluruh rasa lelah seolah terbayarkan melihat perpaduan pepohonan, batu, pantai, ombak dan langit biru. Sungguh besar mahakarya Tuhan! Ayo kita jaga negri yang indah ini.

Bagi saya, Lampung tak hanya bercerita tentang gajah dan lumba-lumba, pula tak hanya bercerita tentang pasir putih dengan segenap keindahan pemandangan bawah air tapi juga bercerita tentang keberanian, pengharapan dan perjuangan. Meski bukan saya yang secara langsung mengemudikan motor, itulah yang terpancar dari Mas Ojek yang motornya saya tumpangi. Butuh keberanian baginya yang ternyata kali pertama ‘ngojekin’ tamu ke sana. Ada pengharapan (seenggaknya ada bayaran ojek yang akan diterima)Β yang selalu menyemangati di tengah kekuatiran dan perjuangannya bisa ‘ngojekin’ saya dengan selamat.

Petualangan ini seolah mengatakan kepada saya supaya jangan takut dan hilang harapan, mantapkan langkah untuk terus berjuang meski jalan yang dilalui tidak mudah untuk dilalui! Di ujung jalan sana menanti sesuatu yang indah yang membuat kita tersenyum penuh syukur πŸ™‚

It is not the goal but the way there that matters, and the harder the way the more worthwhile the journey…

Taman Nasional Bantimurung

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Meliza
Narator: Meliza

Cerita di balik lensa
Saya hanya punya waktu sehari penuh (Sabtu) untuk menjelajah tempat wisata di luar Kota Makassar. Awalnya berniat ke Tanjung Bira, Bulukumba sekalian mampir ke Tana Beru, tempat pembuatan kapal pinisi yang terkenal itu. Namun, (lagi-lagi) musim hujan puuun menghambat rencana itu. Alhasil, setelah terpesona oleh foto-foto yang beredar di ‘google’ maka saya memutuskan ‘singgah’ ke Taman Nasional Bantimurung. Tempat ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari kota Makassar πŸ™‚

Foto punya cerita
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan taman nasional terluas kedua di dunia, luasnya kurang lebih 43.750 hektar. Taman nasional ini menjadi tempat tinggal berbagai fauna seperti kelelawar, kupu-kupu, Kera Hitam Sulawesi (Macaca maura), burung dan reptil.

Di dalam taman yang dikelilingi oleh gunung batu (karst) Maros ini, terdapat air terjun Bantimurung, goa batu dan goa mimpi, telaga bidadari dan kolam renang (buatan). Β Tips bagi Anda yang ingin mampir ke sini adalah mampirlah saat musim kemarau. Kenapa? Karena pada musim hujan debit air terjun lebih deras (tidak bisa bermain-main di bawah air terjun), airnya tampak kotor (seharusnya berwarna hijau bening), danΒ kupu-kupu berwarna pun tampak enggan menampilkan sayapnya.

City of Makassar

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Meliza
Narator: Meliza

Cerita di balik lensa
Februari lalu saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kalinya di Pulau Sulawesi, tepatnya kota Makassar dalam rangka pekerjaan kurang lebih selama 10 hari. Di akhir pekan saya menyempatkan ngiter dalam kota Makassar yakni: Pantai Losari, Museum Kota, Benteng Fort Rotterdam, Pelabuhan Paotere dan Karebosi. Hanya sedikit disayangkan tidak sempat melihat ‘sunset’ yang terkenal di Pantai Losari. Pada saat saya ke sana cuaca sedang tidak bersahabat (musim hujan). Tak apalah, masih ada waktu di masa mendatang :p Oh yes i’ll be back again for the travelling purpose! πŸ˜€

Foto punya cerita
Ditilik dari sejarah, Makassar merupakan kota pelabuhan yang saat ini didiami oleh beberapa etnis besar seperti Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Di zaman dulu, daerah ini merupakan daerah Kerajaan Gowa. Sebagai bentuk pertahanan kerajaan, maka Raja Gowa membangun Benteng yang disebut Benteng Ujung Pandang karena posisinya tepat diujung dan dulunya banyak tumbuhan pandan.

Bila dilihat dari atas bentuk benteng ini menyerupai badan penyu yang siap masuk ke laut, harapannya Kerajaan Gowa dapat berjaya di daratan dan lautan (penyu dapat hidup di darat dan laut). Namun, pada suatu saat, Belanda berhasil merebut Benteng ini, namanya pun berubah. Hingga sekarang benteng ini disebut Fort Rotterdam dan menjadi salah satu tempat wisata. Di dalamnya terdapat dua museum “La Galigo” yang berisi alat persenjataan dan sejarah kehidupan (mulai dari zaman batu hingga modern).

Ada dua semboyan dan satu budaya yang saya secara pribadi ‘terkesan’;”Ewako“, “Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang” dan budaya “Jamu Tamu”, tamu pulang harus berkesan. Oleh karena itu Anda akan dibawa mencicipi kuliner Makassar yang terkenal (Konro, Palubasa, Pisang Epe, Pisang Ijo, Sop Ikan, Ikan Bakar, Coto Makassar, Sop Saudara, Kapurung dan banyak lagi yang belum sempat saya cicipi, hehe).

PS: Lebihkan waktu kurang lebih sejam untuk menikmati gedung Bandara Hasanuddin yang memadukan seni, budaya dan alam, karya anak bangsa πŸ™‚

Karimun Jawa

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Lukman, Bumi (foto di bawah air)
Narator: Meliza Silalahi
Model:Joseph Sirait, Renny, Seli, Lukman, Meliza dan peserta rombongan.

Cerita di balik lensa
Dari Semarang, kami menuju Pelabuhan Kartini dengan menggunakan bus (lama perjalanan 1-2 jam). Untuk menyebrang ke Karimun, tersedia tiga jenis kapal (feri, biasa dan ekspress). Jenis kapal ini akan menentukan lama perjalanannya, hehe.
Bila menggunakan kapal ekspress lama perjalanan sekitar 2-3 jam.

Tips bagi yang mabok perjalanan: minum obat anti mabok untuk mengantisipasi ombak yang cukup dahsyat πŸ˜€ Terlebih bila badan sedang tidak fit. #truestory

Foto punya cerita

Karimun Jawa kepulauan salah satu tempat wisata yang mampu menarik perhatian banyak wisatawan lokal dan mancanegara. Kepulauan ini menawarkan wisata alam (langit biru, pasir putih, pepohonan pantai) dan wisata bahari yang indah di mana manusia dapat bermain-main dengan ikan-ikan (kecil maupun paus).

How great Thou art! πŸ™‚