Taman Nasional Bantimurung

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Meliza
Narator: Meliza

Cerita di balik lensa
Saya hanya punya waktu sehari penuh (Sabtu) untuk menjelajah tempat wisata di luar Kota Makassar. Awalnya berniat ke Tanjung Bira, Bulukumba sekalian mampir ke Tana Beru, tempat pembuatan kapal pinisi yang terkenal itu. Namun, (lagi-lagi) musim hujan puuun menghambat rencana itu. Alhasil, setelah terpesona oleh foto-foto yang beredar di ‘google’ maka saya memutuskan ‘singgah’ ke Taman Nasional Bantimurung. Tempat ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari kota Makassar 🙂

Foto punya cerita
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan taman nasional terluas kedua di dunia, luasnya kurang lebih 43.750 hektar. Taman nasional ini menjadi tempat tinggal berbagai fauna seperti kelelawar, kupu-kupu, Kera Hitam Sulawesi (Macaca maura), burung dan reptil.

Di dalam taman yang dikelilingi oleh gunung batu (karst) Maros ini, terdapat air terjun Bantimurung, goa batu dan goa mimpi, telaga bidadari dan kolam renang (buatan).  Tips bagi Anda yang ingin mampir ke sini adalah mampirlah saat musim kemarau. Kenapa? Karena pada musim hujan debit air terjun lebih deras (tidak bisa bermain-main di bawah air terjun), airnya tampak kotor (seharusnya berwarna hijau bening), dan kupu-kupu berwarna pun tampak enggan menampilkan sayapnya.

Advertisements

City of Makassar

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Meliza
Narator: Meliza

Cerita di balik lensa
Februari lalu saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kalinya di Pulau Sulawesi, tepatnya kota Makassar dalam rangka pekerjaan kurang lebih selama 10 hari. Di akhir pekan saya menyempatkan ngiter dalam kota Makassar yakni: Pantai Losari, Museum Kota, Benteng Fort Rotterdam, Pelabuhan Paotere dan Karebosi. Hanya sedikit disayangkan tidak sempat melihat ‘sunset’ yang terkenal di Pantai Losari. Pada saat saya ke sana cuaca sedang tidak bersahabat (musim hujan). Tak apalah, masih ada waktu di masa mendatang :p Oh yes i’ll be back again for the travelling purpose! 😀

Foto punya cerita
Ditilik dari sejarah, Makassar merupakan kota pelabuhan yang saat ini didiami oleh beberapa etnis besar seperti Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Di zaman dulu, daerah ini merupakan daerah Kerajaan Gowa. Sebagai bentuk pertahanan kerajaan, maka Raja Gowa membangun Benteng yang disebut Benteng Ujung Pandang karena posisinya tepat diujung dan dulunya banyak tumbuhan pandan.

Bila dilihat dari atas bentuk benteng ini menyerupai badan penyu yang siap masuk ke laut, harapannya Kerajaan Gowa dapat berjaya di daratan dan lautan (penyu dapat hidup di darat dan laut). Namun, pada suatu saat, Belanda berhasil merebut Benteng ini, namanya pun berubah. Hingga sekarang benteng ini disebut Fort Rotterdam dan menjadi salah satu tempat wisata. Di dalamnya terdapat dua museum “La Galigo” yang berisi alat persenjataan dan sejarah kehidupan (mulai dari zaman batu hingga modern).

Ada dua semboyan dan satu budaya yang saya secara pribadi ‘terkesan’;”Ewako“, “Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang” dan budaya “Jamu Tamu”, tamu pulang harus berkesan. Oleh karena itu Anda akan dibawa mencicipi kuliner Makassar yang terkenal (Konro, Palubasa, Pisang Epe, Pisang Ijo, Sop Ikan, Ikan Bakar, Coto Makassar, Sop Saudara, Kapurung dan banyak lagi yang belum sempat saya cicipi, hehe).

PS: Lebihkan waktu kurang lebih sejam untuk menikmati gedung Bandara Hasanuddin yang memadukan seni, budaya dan alam, karya anak bangsa 🙂

Karimun Jawa

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer: Lukman, Bumi (foto di bawah air)
Narator: Meliza Silalahi
Model:Joseph Sirait, Renny, Seli, Lukman, Meliza dan peserta rombongan.

Cerita di balik lensa
Dari Semarang, kami menuju Pelabuhan Kartini dengan menggunakan bus (lama perjalanan 1-2 jam). Untuk menyebrang ke Karimun, tersedia tiga jenis kapal (feri, biasa dan ekspress). Jenis kapal ini akan menentukan lama perjalanannya, hehe.
Bila menggunakan kapal ekspress lama perjalanan sekitar 2-3 jam.

Tips bagi yang mabok perjalanan: minum obat anti mabok untuk mengantisipasi ombak yang cukup dahsyat 😀 Terlebih bila badan sedang tidak fit. #truestory

Foto punya cerita

Karimun Jawa kepulauan salah satu tempat wisata yang mampu menarik perhatian banyak wisatawan lokal dan mancanegara. Kepulauan ini menawarkan wisata alam (langit biru, pasir putih, pepohonan pantai) dan wisata bahari yang indah di mana manusia dapat bermain-main dengan ikan-ikan (kecil maupun paus).

How great Thou art! 🙂

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Sewaktu SD kita menyanyikan lagu:

Nenek moyangku seorang pelaut,
gemar mengarung luas samudra,
menerjang ombak tiada takut,
menempuh badai sudah biasa.

Angin bertiup layar terkembang,
ombak berdebur di tepi pantai,
pemuda berani bangkit sekarang,
ke laut kita beramai-ramai.

Kemudian di pelajaran geografi kita juga mengetahui bahwa ternyata Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.480 pulau dan memiliki garis pantai terpanjang ke-empat di dunia sepanjang 95.181 km. Tidak heran, sedari kecil kita diajak untuk menyadari kekuatan bahari negara kita. Sebut saja kapal phinisi yang terkenal itu dan KRI Dewaruci yang sudah mengelilingi dunia adalah bukti nyata bahwa nenek moyang kita adalah pelaut tangguh.

Selain itu, letak Indonesia di garis khatulistiwa membuat negara kita dapat dikunjungi sepanjang tahun tanpa ada gangguan berarti dari perubahan cuaca. Bali, Pulau Dewata dengan paduan pantai-pantai indah dan kebudayaan yang kental tidak pernah sepi dikunjungi turis dalam negeri dan luar negeri. Di sebelahnya, ada Nusa Tenggara dengan Gili Trawangan-nya. Di dasar laut kita memiliki taman yang luar biasa, mulai dari Bunaken di Sulawesi Utara, Karimun Jawa di Jawa Tengah, sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Kemudian ada juga danau unik dengan jutaan ubur-ubur di Derawan Kalimantan. Dan tidak ketinggalan, Pantai Nias yang merupakan surganya para peselancar.  Inilah Indonesia, zamrud khatulistiwa dengan kekayaan maritim yang “ruarrrrr” biasa.

 

Gedung 1000 Pintu

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer : Lukman Haris, Joseph Sirait.
Narator : Lukman Haris dan Meliza
Penata Gaya: Marselina Tando
Model : Renny, Marselina dan Meliza :p

Cerita di balik lensa

Usai melihat prosesi di Sam Poo Kong, kami pun melanjutkan acara keliling Semarang. Lokasi pun tertuju ke Lawang Sewu yang tersohor dengan dunia mistis atau dunia lainnya. Agak serem sih mendengar nama tempat ini. Namun karena penasaran dan sayang bila tidak dikunjungi, kami pun membulatkan tekad untuk membuktikan keberadaan dunia mistis tersebut, meskipun ada rasa cemas-cemas, wkwkwk :p

Foto punya cerita

Lawang Sewu…

Siapa sangka gedung Lawang Sewu–yang terasa angker saat melihat wastafel, toilet, lorong-lorong panjang yang gelap dan terkesan tak terawat dan tak berpenghuni (manusia :p)–ternyata merupakan karya arsitektur cerdik negri Belanda.

Menurut sumber di sini, gedung ini dibangun pada tahun 1903 untuk keperluan kantor administrasi kereta api.  Namun, pada saat penjajahan Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi penjara bagi tawanan Jepang  bahkan tempat penyiksaan dan pembunuhan tragis tawanan. Mungkin sejarah ini menambahkan rasa angker bagi para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.

Angker iya, namun rasa tersebut hanya terasa di beberapa titik di dalam gedung. Bila dilihat dari luar, gedung yang sudah mulai direnovasi ini lebih mirip sekolahan yang jauh dari kesan angker. Tidak sedikit orang menggunakan lokasi ini sebagai tempat pengambilan foto pre-wedding. Bagi kami sendiri pun, tempat ini lebih sebagai tempat wisata yang penuh dengan foto ceria 🙂

Catatan
Lawang: pintu
Sewu : 1000

607 Cheng Ho: Sebuah Pesan Damai

This slideshow requires JavaScript.

Fotografer : Lukman Haris, Joseph Sirait, Renny Silalahi.
Narator : Meliza Silalahi.
Penata Gaya: Marselina Tando.

Cerita di balik lensa

Adalah lima orang yang kurang kerjaan di hari libur lebaran Agustus 2012 hendak mengunjungi Karimun Jawa yang kabarnya cukup tersohor :p Karena takut terkena macet, kami pun memulai perjalanan di 15 Agustus malam dari Jakarta dan sampai 16 Agustus pagi di Semarang.  Hal ini membuat kami terpaksa  dengan senang hati menginap sehari di Semarang. Kebetulan hari itu adalah perayaan 607 tahun mendaratnya Cheng Ho.   Siapakah gerangan Cheng Ho? Mengapa sosok Tiong Hoa- Muslim ini justru dipuja sebagai dewa oleh Tiong Hoa- Non Muslim?  Simak cerita di bawah 🙂

Foto punya cerita

Perayaan 607 tahun mendaratnya Laksamana Cheng Ho di Semarang disambut meriah oleh masyarakat Klenteng Lie Ka Sie dan Sam Poo Kong. Seperti yang diungkapkan Kompas di sini, “Laksamana Cheng Ho adalah seorang bahariwan Muslim terbesar sepanjang sejarah. Ia, orang kepercayaan Kaisar Ming dari Tiongkok, pada abad ke-15 mengarungi samudra untuk mengunjungi Asia dan Afrika“. Cerita lengkapnya dapat Anda baca di situs-situs terpecaya, hehe :p

Yang ingin saya soroti dari sosok Laksamana Cheng Ho ini adalah toleransi umat beragama dan rasa cinta damai yang cukup kental. Kedatangannya di berbagai negara semata-mata hanya karena ingin memperkenalkan teknologi kepada dunia. Tidak ada sama sekali niat untuk menjajah, berperang ataupun ekspansi atas nama agama.

Ada apa dengan perkembangan ilmu, teknologi, dllnya di abad ke-21 ini? Ajaran keagamaan harusnya tetap sama, tetapi rasanya sudah banyak nilai agama yang bergeser. Di Indonesia, bahkan pilkada pun sarat dengan isu SARA yang miskin moral. Peringatan 607 tahun kedatangan Cheng Ho ini semoga dapat memberi pesan damai bagi kita masyarakat Indonesia.